Jelajah Wisata Halal: Masjid Tuo Kayu Jao Simbol Islam Minangkabau
17-06-2019 14:21 WIB

Padang,Multikel.com,- Berwisata ke ranah Minangkabau rasanya tak lengkap jika tak berkunjung ke Masjid Tuo Kayu, masjid bersejarah ini Tuo Kayu Jao ini terletak di Jalan Kabupaten Solok-Solok Selatan atau Jorong Kayu Jao, Nagari Batang Barus, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, masjid miliki keunikan dan merupakan simbol adat Islam masyarakat Minangkabau.

Bangunan masjid ini sangat unik, betapa tidak atapnya terbuat dari ijuk warna hitam dengan dinding dan lantai dari papan dibalut dengan warna hitam yang menambah kesakralan. Konon Masjid Tuo Kayu Jao ini dibangun pada 1599, namun penjelasan dari penjaga sekaligus keturunan pendiri Masjid Tua Kayu Jao mengklaim dibangun pada 1419.

“Masih simpang siur pembangunanya, sebab pernah dirombak masjid ini jadi biarlah para sejarah yang nanti menyelidikinya,” tutur Pengurus Masjid Tuo, Mustamik.

Dulu pembangunan masjid ini dilakukan para warga secara gotong royong, masjid ini digagas oleh Angku Imam yang bernama Musaur dan Angku Labai sekaligus sebagai Bilal. Keberadaan Masjid Tuo Kayu Jao menjadi bukti bahwa sejarah Agama Islam di Sumatera Barat, khususnya Kabupaten Solok telah menyebar sejak abad ke-16.

Dari segi arsitektur, masjid ini juga mengalami asimilasi terhadap budaya Minangkabau, yakni Rumah Gadang. Atap masjid yang terbuat dari ijuk terdiri dari tiga tingkat. Antara tingkatan terdapat celah yang dibuat untuk pencahayaan.

Arsitektur lokal berupa “Rumah Gadang” terlihat di bagian mihrab, yang memiliki atap dengan bentuk berbeda, yakni berbentuk gonjong.

"Ini panduan antara asimilasi simbol lokal dan Islam juga tampak dari masjid ini. Atap masjid disangga oleh 27 tiang, yang menandakan enam suku, yang masing-masing terdiri dari empat unsur pemerintahan ditambah dengan tiga unsur agama, yakni khatib, imam dan bilal," paparnya.

Salah satu benda yang menjadi ikon di masjid ini adalah bedug atau tabuah dalam bahasa minang. Bedug yang terletak di sebelah masjid, diperkirakan usianya juga sama dengan masjid itu sendiri. Bahkan, bedug ini masih difungsikan hingga kini sebagai penanda waktu masuk salat.

Selain ini keunikan masjid ini dari segi tonggaknya ada 24 tiang, melambangkan jumlah Ninik Mamak yang 24 orang. Kemudian memiliki jendela sebanyak 13 pintu melambangkan rukun salat. Anak tangga memasuki masjid berjumlah 5 undakan, melambangkan Rukun Islam.

Arsitektur lokal berupa “Rumah Gadang” terlihat di bagian mihrab, yang memiliki atap dengan bentuk berbeda, yakni berbentuk gonjong.

"Ini panduan antara asimilasi simbol lokal dan Islam juga tampak dari masjid ini. Atap masjid disangga oleh 27 tiang, yang menandakan enam suku, yang masing-masing terdiri dari empat unsur pemerintahan ditambah dengan tiga unsur agama, yakni khatib, imam dan bilal," paparnya.

Salah satu benda yang menjadi ikon di masjid ini adalah bedug atau tabuah dalam bahasa minang. Bedug yang terletak di sebelah masjid, diperkirakan usianya juga sama dengan masjid itu sendiri. Bahkan, bedug ini masih difungsikan hingga kini sebagai penanda waktu masuk salat.

Lebih jauh lagi, keunikan masjid ini dari segi tonggaknya ada 24 tiang, menggambarkan jumlah Ninik Mamak yang 24 orang. Kemudian memiliki jendela sebanyak 13 pintu menyimbolkan rukun salat. Anak tangga memasuki masjid berjumlah 5 tangga, menyimbolkan Rukun Islam. (OKZ)
 

(bagikan informasi)